BI Wanti-wanti Inflasi Pangan Saat Terjangan El Nino di Banyumas Raya
PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Purwokerto mengingatkan potensi tekanan terhadap harga pangan seiring menguatnya fenomena El Nino pada paruh kedua 2026. Kondisi cuaca tersebut diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan yang dapat mengganggu produksi sejumlah komoditas pangan, terutama beras.
Kepala BI Perwakilan Purwokerto Aswin Gantina mengatakan perkembangan iklim pada semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian karena musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
“Fenomena El Nino diperkirakan terus menguat hingga paruh kedua 2026. Puncak musim kemarau terjadi pada Juli sampai September, dengan durasi kemarau yang berpotensi lebih panjang dari kondisi normal,” kata Aswin pada Kamis (13/8/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menjadi sumber tekanan terhadap inflasi, khususnya kelompok volatile food atau komoditas pangan yang harganya mudah bergejolak. Risiko semakin besar karena prakiraan curah hujan pada triwulan III 2026 cenderung berada pada kategori rendah di sejumlah wilayah.
Dampak kekeringan perlu diwaspadai karena bertepatan dengan periode penting pertumbuhan tanaman padi. Minimnya ketersediaan air dapat menyebabkan perubahan pola tanam, mengganggu perkembangan tanaman, hingga menurunkan hasil produksi.
“Beras merupakan komoditas dengan bobot terbesar dalam pembentukan inflasi volatile food. Komoditas ini relatif sensitif terhadap gangguan produksi dan faktor cuaca,” ujarnya.
BI mencatat, luas lahan baku sawah di Banyumas hingga 30 Juni 2026 mencapai sekitar 30.665,2 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.537,6 hektare atau 18,1 persen berada dalam fase generatif pertama, sedangkan 7.258,8 hektare atau 23,7 persen telah memasuki fase generatif kedua.
Editor: EldeJoyosemito