UMKM Banyumas Raya Unjuk Gigi di ISEF 2026, Produk Banjarnegara Raih Juara
Aswin mengatakan pengembangan ekonomi syariah tidak hanya bertumpu pada produk makanan dan fesyen halal, tetapi juga mencakup sektor pariwisata, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan usaha berbasis potensi lokal.
“Pengembangan ekonomi syariah perlu dilakukan secara terintegrasi dengan mengoptimalkan potensi daerah. Selain memperkuat UMKM halal, pengembangan pariwisata ramah muslim dan wastra lokal juga dapat menjadi penggerak ekonomi serta membuka peluang usaha bagi masyarakat,” katanya.
Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Banyumas Raya
Di tingkat daerah, KPwBI Purwokerto terus memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah melalui pengembangan UMKM halal, pemberdayaan pesantren, digitalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), serta peningkatan literasi masyarakat.
Sejumlah program telah dilaksanakan, antara lain pelatihan penyelia halal, peningkatan kapasitas pengurus masjid dalam pengelolaan ZISWAF dan pemanfaatan QRIS, serta pelatihan kewirausahaan dan pelaporan keuangan pesantren melalui Sistem Informasi Pengelolaan Usaha dan Keuangan Bisnis Pesantren Indonesia (SIPUSBI).
Penguatan kemandirian pesantren juga dilakukan melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) untuk budidaya cabai serta peningkatan kompetensi teknologi digital bagi santri dari lima pesantren di Banyumas Raya.
Di sisi literasi, BI Purwokerto menyelenggarakan edukasi ekonomi dan keuangan syariah bagi pelaku UMKM, takmir masjid, serta masyarakat umum. Kegiatan serupa turut dihadirkan melalui Pasar Ramadan, Karya Kreatif Serayu (KKS), dan lokakarya optimalisasi pengelolaan ZISWAF berbasis digital.
Program Piwulang x BERKAH.IN dalam SELARAS x Festival Literasi 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai ekonomi syariah. Sementara itu, inisiatif ZAWANOMIC x BERKAH.IN SHARE membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan gagasan inovatif terkait pemanfaatan zakat dan wakaf produktif.
Editor: EldeJoyosemito