Jejak Maestro Raden Soetedjo di Balik Lagu Penyambut Kereta Berjudul Di Tepinya Sungai Serayu
Apresiasi untuk Warisan yang Tetap Hidup
Bagi PT KAI Daop 5 Purwokerto, peresmian patung Raden Soetedjo merupakan bagian dari upaya memberikan penghargaan kepada seniman daerah yang karyanya telah menjadi bagian dari pengalaman perjalanan pelanggan.
Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana, mengatakan lagu Di Tepinya Sungai Serayu mempunyai arti lebih dari sekadar penanda kedatangan kereta api.
“Bagi kami, lagu ‘Di Tepinya Sungai Serayu’ bukan sekadar penanda kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto. Lagu ini telah menjadi bagian dari identitas dan pengalaman perjalanan masyarakat. Kami sangat menghargai keputusan keluarga dan ahli waris Raden Soetedjo yang tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut. Patung Raden Soetedjo ini menjadi bentuk apresiasi kami atas kebaikan hati dan kontribusi keluarga dalam menjaga warisan budaya Banyumas,” ujar Rangga.
Menurut dia, keberadaan patung tersebut juga diharapkan memperkenalkan sosok Raden Soetedjo kepada generasi muda dan para pengguna jasa kereta api yang datang dari berbagai daerah.
Stasiun, kata Rangga, merupakan ruang pertemuan masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Karena itu, ruang publik tersebut dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk menunjang mobilitas, tetapi juga untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan daerah.
“Stasiun merupakan ruang pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kami berharap Patung Raden Soetedjo dapat menjadi tempat untuk mengenal lebih dekat tokoh seni Banyumas dan mengingat bahwa karya budaya memiliki nilai yang melampaui zamannya,” tambahnya.
Pembangunan patung tersebut merupakan bagian dari Program Bantuan Bina Lingkungan 2026 yang dilaksanakan melalui kerja sama KAI Daop 5 Purwokerto dengan Yayasan Lestari Banjoemas Raya (YLBR).
Pengerjaannya melibatkan sejumlah pekerja seni. Septian Puji Andriyanto, pematung asal Magelang, terlibat dalam pengerjaan elemen patung. Sementara itu, Jatmiko Wicaksono, dosen STIKOM Yogyakarta, berperan dalam penataan desain artistik.
Area tersebut juga dilengkapi biografi singkat Raden Soetedjo serta replika biola Stradivarius Paganini yang dibuat oleh perajin alat musik asal Banyumas, Sugeng Riyanto.
Kehadiran biografi dan replika alat musik itu diharapkan membantu pengunjung mengenal lebih jauh sosok Raden Soetedjo, perjalanan hidupnya, dan kiprahnya dalam dunia musik.
Editor: EldeJoyosemito