Jejak Maestro Raden Soetedjo di Balik Lagu Penyambut Kereta Berjudul Di Tepinya Sungai Serayu
Dari Banyumas, Mengabdikan Hidup untuk Musik
Raden Soetedjo lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909. Ayah kandungnya bernama Poerwadibroto. Namun, ia kemudian diasuh oleh pamannya, Raden Soemandar, yang bekerja sebagai pegawai pabrik gula Klampok di Distrik Purwareja Banyumas, wilayah yang kini masuk Kabupaten Banjarnegara.
Sejak muda, Soetedjo memiliki cita-cita mengabdikan hidupnya pada musik. Keinginan itu membawanya menempuh pendidikan musik di Konservatori Musik Roma, Italia. Pengalaman belajar di luar negeri memperluas wawasannya dan turut membentuk kemampuannya sebagai komponis.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa musik bukan sekadar kegemaran, melainkan bidang yang digelutinya secara serius. Ia menghasilkan berbagai karya, mulai dari Di Tepinya Sungai Serayu, Tidurlah Intan, Melati Pesanku, Selamat Berjuang, Keroncong Senja, Hamba Menyanyi, hingga Juwita Malam.
Di antara karya-karya tersebut, Di Tepinya Sungai Serayu memiliki perjalanan yang istimewa. Lagu itu tidak hanya dikenal sebagai bagian dari khazanah musik Banyumas, tetapi juga hadir berulang kali dalam kehidupan masyarakat melalui pengeras suara stasiun kereta api.
Setiap kali kereta tiba, lagu tersebut kembali terdengar. Bagi penumpang yang rutin bepergian melalui Purwokerto, alunannya dapat menjadi penanda bahwa perjalanan telah sampai di salah satu simpul transportasi penting di Jawa Tengah bagian selatan.
Tanpa harus mengenal riwayat penciptanya, masyarakat telah lebih dahulu akrab dengan karyanya.
Editor: EldeJoyosemito