Peserta tidak hanya berasal dari Banyumas, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Madura. Bahkan, sejumlah penari mancanegara dari Amerika Serikat, Belanda, Kazakhstan, hingga Meksiko dipastikan turut ambil bagian.
Riyanto mengungkapkan, keikutsertaan peserta dari luar daerah maupun luar negeri dilakukan secara mandiri, termasuk pembiayaan transportasi dan akomodasi. Hal ini dinilai sebagai bentuk apresiasi terhadap kegiatan Banyumas Ngibing.
Selain pertunjukan tari, tahun ini juga akan menghadirkan kegiatan mural selama 24 jam oleh para perupa Banyumas, menambah variasi dalam rangkaian acara budaya tersebut.
Untuk mendukung kelancaran acara, panitia melakukan persiapan intensif, termasuk menggandeng berbagai komunitas seni dan jaringan kreatif. Setiap lokasi pertunjukan memiliki karakteristik tersendiri, baik ruang dalam, luar ruangan, maupun pertunjukan jalanan.
Dari sisi keselamatan, panitia juga menyiapkan tim medis guna memantau kondisi para penari, terutama yang tampil selama 24 jam penuh. Pemeriksaan kesehatan dijadwalkan dilakukan secara berkala setiap dua jam.
Riyanto menambahkan, kehadiran penari mancanegara tidak hanya untuk tampil, tetapi juga untuk belajar budaya lokal, termasuk tari lengger khas Banyumas.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menilai Banyumas Ngibing memiliki potensi besar dalam mengangkat citra daerah sebagai pusat kebudayaan. Ia menargetkan Kecamatan Banyumas dapat berkembang menjadi kawasan Kota Lama yang menjadi pusat ekspresi seni dan tradisi.
“Event ini harus terus berkembang setiap tahun. Kami ingin Banyumas dikenal sebagai kota budaya yang mampu menarik perhatian lebih luas,” ujarnya.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
