Selain mengasah kemampuan navigasi dan survival, peserta juga mempraktikkan cara memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk kebutuhan konsumsi selama berada di lapangan. Beberapa hasil alam rawa seperti Totog (Geloina expansa) dan Keong Bakau (Telescopium telescopium) diolah menjadi menu santapan malam sederhana.
“Pengolahannya cukup sederhana, direbus menggunakan air garam hingga matang, kemudian dibersihkan sebelum dikreasikan menjadi hidangan,” jelas Gael.
Di sela kegiatan, peserta juga menemukan buah Nipah (Nypa fruticans) matang yang kemudian dimanfaatkan sebagai makanan penutup.
Aktivitas tidak berhenti saat malam tiba. Tim melanjutkan observasi serangga menggunakan metode yellow trap yang dipasang pada pohon Avicennia di sekitar lokasi peristirahatan. Pengamatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran karakterisasi biodiversitas dan ekosistem rawa.
Melalui simulasi ini, UPL MPA Unsoed berharap para anggota mampu meningkatkan keterampilan penjelajahan alam, kemampuan bertahan hidup, hingga observasi botani dan zoologi secara langsung di lapangan.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran untuk memahami tantangan sekaligus kekayaan hayati kawasan rawa dan lahan basah yang dimiliki Indonesia.
Editor : Arbi Anugrah
Artikel Terkait
