PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni dinilai tidak cukup dimaknai sebagai seremoni kenegaraan semata. Di tengah tantangan globalisasi, menguatnya politik identitas, serta polarisasi sosial yang berkembang di ruang digital, Pancasila perlu dipahami sebagai fondasi kebudayaan yang menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Dr. Kholid Mawardi, M.Hum., mengatakan Indonesia merupakan bangsa yang dibangun bukan atas dasar kesamaan, melainkan kesediaan berbagai kelompok untuk hidup bersama dalam perbedaan.
"Indonesia adalah rumah besar yang dihuni ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama. Dalam konteks itu, Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga menjadi titik temu peradaban dan identitas kolektif bangsa," kata Kholid Mawardi, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, dari perspektif pesantren, keberadaan Pancasila sejalan dengan prinsip kemaslahatan yang menjadi tujuan utama syariat Islam. Ia menjelaskan, para ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Tujuan tersebut tidak mungkin tercapai tanpa adanya stabilitas sosial dan persatuan masyarakat.
"Menjaga keutuhan bangsa pada hakikatnya merupakan bagian dari menjaga kemaslahatan umat. Karena itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki relevansi yang kuat dengan ajaran Islam," ujarnya.
Kholid menambahkan, pemikiran Imam Al-Mawardi juga menempatkan negara sebagai instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, Pancasila menjadi fondasi etis yang memungkinkan negara menjalankan fungsi tersebut secara adil bagi seluruh warga.
Ia menilai keputusan para pendiri bangsa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara merupakan bentuk ijtihad politik yang bertujuan menjaga persatuan dan menghindari konflik antargolongan.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
