Nilai tersebut, menurutnya, masih dapat ditemukan dalam berbagai tradisi masyarakat, seperti tahlilan, slametan, dan gotong royong. Tradisi-tradisi tersebut menjadi ruang sosial yang memperkuat solidaritas, persaudaraan, dan kepedulian antarsesama tanpa memandang latar belakang sosial.
Ia menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi kolonialisme fisik, melainkan fragmentasi sosial yang berkembang melalui media digital. Media sosial kerap menjadi arena pertarungan identitas yang memperuncing perbedaan agama, suku, maupun pilihan politik.
Karena itu, Pancasila perlu terus dihadirkan sebagai etika kebudayaan yang mengajarkan masyarakat untuk hidup berdampingan dalam keberagaman tanpa kehilangan keyakinan masing-masing.
Dalam konteks tersebut, pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan melalui tradisi tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i'tidal (adil).
"Dari pesantren, generasi muda belajar bahwa agama dan kebangsaan bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru bertemu pada tujuan yang sama, yakni menghadirkan kemaslahatan bersama," tutur Kholid.
Ia menegaskan, Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum refleksi untuk kembali mengingat amanah para pendiri bangsa. Menurutnya, para ulama telah menunjukkan bahwa menjadi Muslim yang taat sekaligus warga negara yang baik merupakan dua identitas yang saling menguatkan.
"Di antara sajadah dan bendera, Pancasila menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai agama dengan semangat kebangsaan. Selama nilai-nilai itu terus hidup dalam tradisi pesantren, gotong royong masyarakat, dan kesadaran kolektif warga bangsa, Indonesia akan tetap menjadi rumah bersama yang damai, adil, dan bermartabat," pungkasnya.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
