Strategi berikutnya adalah mengoptimalkan pelayanan di puskesmas melalui kerja sama dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) guna memperluas penemuan kasus di masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat kapasitas rumah sakit agar mampu memberikan pelayanan rujukan secara cepat sehingga pasien memperoleh penanganan tepat waktu. Seluruh pelaksanaan program akan disertai monitoring dan evaluasi untuk memastikan sistem pelayanan dan pelaporan berjalan efektif.
Zulfachmi menambahkan, selain katarak, kebutaan juga dapat dipicu penyakit lain, seperti retinopati diabetik, glaukoma, maupun kelainan bawaan. Ia mengingatkan masyarakat, khususnya yang berusia di atas 50 tahun, agar tidak menunda pemeriksaan mata apabila mulai mengalami gangguan penglihatan.
"Semakin lama katarak dibiarkan, tingkat kesulitan operasinya akan semakin tinggi. Karena itu deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting," ujarnya.
Direktur Pelaksana YSKK sekaligus Koordinator Proyek I-SEE, Iwan Setiyoko, mengatakan Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo dipilih sebagai daerah percontohan setelah melalui asesmen kebutuhan. Ketiga daerah dinilai memiliki kebutuhan layanan kesehatan mata yang cukup tinggi serta komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan program.
"Kami melihat adanya kebutuhan yang besar sekaligus dukungan pemerintah daerah yang kuat sehingga program ini diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan," katanya.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
