"Dalam teknik ini, pikiran tidak dibiarkan liar, tetapi digunakan sebagai instrumen untuk mengenali diri dan mengelola kondisi batin. Ketika seseorang memaksa pikirannya diam, sering kali justru emosi dan persoalan yang seharusnya diselesaikan menjadi terpendam," ujarnya.
Menurutnya, trauma atau pengalaman emosional yang belum terselesaikan dapat menjadi salah satu penyebab munculnya tekanan mental. Karena itu, peserta diajak mengenali gejolak tersebut agar dapat dikelola sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Pandangan tersebut, menurut penyelenggara, sejalan dengan penjelasan Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, yang menyebut seseorang umumnya mengalami masalah kesehatan mental terlebih dahulu sebelum masuk kategori gangguan mental apabila kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mengedepankan Pendekatan Spiritual Universal
Bunda Arsaningsih menjelaskan metode SOUL Reflection lahir dari perjalanan spiritual yang panjang, mulai dari pengalaman meditasi, proses penyembuhan, hingga pencarian makna hidup.
Ia menyimpulkan bahwa pengelolaan batin membutuhkan kekuatan yang lebih besar daripada kemampuan manusia semata.
"Untuk mengubah kondisi batin seseorang dibutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar dari diri sendiri. Karena itu kami memandang bahwa kekuatan Tuhan menjadi sumber utama dalam proses pengelolaan batin," katanya.
Ia menambahkan, hubungan spiritual tersebut dibangun melalui pendekatan yang bersifat universal, bukan melalui ritual agama tertentu. Karena itu, metode SOUL Reflection disebut dapat diikuti oleh siapa saja dengan tetap menghormati keyakinan masing-masing.
Dibangun atas Tiga Fondasi
Dalam praktiknya, SOUL Reflection memiliki tiga tahapan utama, yakni identifikasi, pemurnian, dan top up tabungan kebaikan.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
