Krisis Air Bersih di Banyumas Terus Meluas, 25.817 Warga Terdampak

Elde Joyosemito
BPBD Kabupaten Banyumas mencatat 25.817 jiwa atau 7.852 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih. (Foto: BPBD Banyumas)

"Hingga 6 Agustus 2026 kami telah menyalurkan 913 ribu liter air bersih melalui 188 rit ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan. Distribusi akan terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan dan permohonan dari masyarakat," ujarnya.

Wilayah yang mengalami krisis air bersih antara lain Kecamatan Karanglewas, Purwokerto Timur, Jatilawang, Sumpiuh, Kemranjen, Cilongok, Patikraja, Tambak, Ajibarang, Wangon, Somagede, Lumbir, Purwojati, dan Gumelar.

Menurut Dwi, distribusi air dilakukan secara bertahap berdasarkan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah. BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah desa, relawan, lembaga kemanusiaan, dan sejumlah mitra untuk memperluas jangkauan penyaluran.

"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, relawan, dan para mitra agar pelayanan distribusi air bersih berjalan optimal. Masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih diharapkan segera melapor melalui pemerintah desa atau langsung ke BPBD sehingga dapat segera kami tindak lanjuti," katanya.

Di tengah meluasnya krisis air, BPBD Banyumas juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Vegetasi yang mengering akibat minimnya curah hujan membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.

Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla BPBD Banyumas, tercatat lima kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 9,3 hektare.

Kebakaran tersebut terjadi di Kelurahan Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, dengan luas 0,3 hektare. Selanjutnya di Desa Pamijen, Kecamatan Sokaraja, seluas 2 hektare; Desa Karangtalun Kidul, Kecamatan Purwojati, 1 hektare; Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, 2 hektare; serta Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang, dengan luas lahan terbakar mencapai 4 hektare.

Dwi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Pembakaran sampah maupun lahan secara terbuka harus dihindari karena berpotensi menjadi sumber api yang sulit dikendalikan.

"Kami mengajak masyarakat menghemat penggunaan air bersih dan tidak membakar sampah maupun lahan. Kondisi vegetasi saat ini sangat kering sehingga api mudah menyebar dan memicu kebakaran yang lebih luas," ujarnya.

BPBD juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Pelaporan secara cepat dinilai penting agar petugas dapat segera melakukan penanganan dan mencegah dampak bencana semakin meluas.

Editor : EldeJoyosemito

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network