Pihak UIN Saizu secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Basarnas, Damkar Banyumas, dan seluruh unsur SAR gabungan yang membantu proses evakuasi.
“Kecepatan penanganan menjadi hal penting dalam situasi tersebut,” kata Prof. Ridwan.
Setelah kondisi Umi dinyatakan baik dan diperbolehkan pulang, pihak kampus kemudian memberikan bantuan biaya kesehatan.
Kunjungan Rektor bersama jajaran Dema juga dilakukan untuk memastikan mahasiswa mendapatkan perhatian dan pendampingan setelah kejadian.
Selain memastikan kondisi mahasiswa, Prof. Ridwan turut menjelaskan informasi awal mengenai penyebab insiden.
Ia mengatakan, kejadian tersebut diduga berkaitan dengan sistem pengereman pada wahana flying fox. Namun, menurut informasi yang diterimanya, sistem pengereman bukan berarti sepenuhnya gagal berfungsi.
“Bukan tidak berfungsi, tetapi pengeremannya kurang optimal sehingga masih terjadi benturan,” jelasnya.
Prof. Ridwan juga menyebut kondisi cuaca yang cukup panas sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi kinerja peralatan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi mahasiswi menjadi perhatian utama kampus setelah insiden tersebut.
Insiden tersebut terjadi di tengah rangkaian PBAK UIN Saizu 2026 yang menjadi agenda pengenalan kehidupan akademik dan kemahasiswaan bagi mahasiswa baru.
UKM Faktapala menjadi salah satu unsur mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan demonstrasi kemampuan lapangan.
Setelah insiden, proses evakuasi berlangsung dengan melibatkan berbagai unsur hingga mahasiswi tersebut mendapatkan pemeriksaan medis.
Respons cepat tersebut menjadi perhatian pihak kampus. Prof. Ridwan menegaskan apresiasinya kepada seluruh pihak yang membantu penanganan mahasiswi sejak berada di lokasi hingga mendapatkan layanan kesehatan.
Dengan kondisi Umi yang telah dinyatakan baik dan diperbolehkan pulang, fokus penanganan kini beralih pada pemulihan mahasiswi. Kampus juga memastikan dukungan tetap diberikan selama proses pemulihan pascakejadian.
Editor : Arbi Anugrah
Artikel Terkait
