Tema itu menjadi semacam pernyataan bahwa dari kawasan pegunungan Banjarnegara, tumbuh beragam kopi dengan karakter yang layak diperkenalkan lebih luas. “Kami ingin menegaskan bahwa sebenarnya Banjarnegara memang memiliki kopi dan punya potensi yang cukup bagus,” kata Alif.
Di festival tersebut, pengunjung tidak hanya diajak membeli dan menikmati kopi. Mereka diajak mengikuti perjalanan panjang sebuah biji kopi sebelum akhirnya sampai ke dalam cangkir. Melalui konsep Dieng Coffee Showcase, perjalanan itu ditampilkan melalui sejumlah stasiun.
Ada Green Bean Station, tempat pengunjung mengenal berbagai jenis biji kopi. Ada pula Roastery Station, yang memperlihatkan proses penyangraian. Selanjutnya, pengunjung dapat mengikuti Public Cupping untuk mengenali karakter dan cita rasa kopi melalui proses pencicipan. Sementara di Brewing Station, beragam teknik penyeduhan diperkenalkan.
Di balik secangkir kopi terdapat proses panjang, mulai dari kebun, panen, pengolahan, penyangraian, hingga akhirnya tersaji di hadapan penikmatnya.
Festival tersebut juga menghadirkan Spice Station yang memperkenalkan produk rempah dari Banjarnegara. Sektor ekonomi kreatif turut menampilkan inovasi kopi susu Dawet Ayu yang memadukan kopi dengan salah satu identitas kuliner khas daerah.
Kopi pun menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang hal yang lebih luas: budaya, pangan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Kopi Nusantara
Kemeriahan Festival Kopi Dieng tidak hanya datang dari pelaku usaha lokal. Kopi dari berbagai daerah di Indonesia turut memenuhi ruang festival. Dengan dukungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum, sebanyak 14 Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis hadir membawa produk dari daerah masing-masing.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
