Ada kopi dari Sumatra, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Setiap daerah membawa karakter berbeda.
Ada perbedaan tanah, ketinggian, iklim, hingga cara pengolahan. Semua perbedaan itu kemudian melahirkan cita rasa yang membuat setiap kopi memiliki identitasnya sendiri. “Keuntungan” sebuah festival tidak selalu bisa dihitung dari jumlah cangkir yang terjual hari itu.
Bagi pelaku kopi, kesempatan untuk bertemu, berdiskusi, membangun jaringan, hingga menemukan calon pembeli bisa menjadi nilai yang jauh lebih panjang. Di sisi lain, pelaku kopi lokal juga mendapat ruang yang tidak kecil. Sebanyak 35 pengirim produk kopi dari berbagai wilayah Banjarnegara ikut terlibat, dari Kecamatan Susukan hingga Batur.
Ketika ribuan wisatawan datang ke Dieng untuk menikmati budaya dan alam, produk lokal mendapat kesempatan untuk ikut “berbicara”.
Bagi Pemkab Banjarnegara, kopi juga memiliki cerita lain. Komoditas tersebut tidak hanya dipandang dari sisi ekonomi. Kopi menjadi bagian dari gagasan besar tentang konservasi.
Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan pemerintah daerah ingin membawa isu lingkungan dalam berbagai upaya pembangunan. Banjarnegara, kata dia, memiliki komitmen untuk berkembang sebagai kabupaten konservasi. “Banjarnegara kami ingin menjadi kabupaten konservasi. Kami membawa isu lingkungan, dan salah satunya melalui kopi,” kata Amalia.
Di kawasan pegunungan, pengembangan kopi diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan. Potensi tersebut juga semakin diperkuat oleh capaian kopi Banjarnegara di tingkat nasional. Kopi arabika Banjarnegara meraih juara kedua tingkat nasional, sementara robusta menempati peringkat ketiga.
Prestasi itu menjadi penanda bahwa dari lereng-lereng pegunungan Banjarnegara, tumbuh kopi yang memiliki kualitas untuk bersaing.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
