“Tradisi pencukuran rambut gimbal ini sudah dilakukan masyarakat secara turun-temurun dari nenek moyang. Sebelum ada event, masyarakat melaksanakan sendiri karena memang ini sudah menjadi budaya,” kata Chaerudin.
Menurut dia, ritual tersebut kemudian diangkat menjadi bagian dari Dieng Culture Festival dan kini menjadi salah satu daya tarik utama. DCF 2026 sendiri menjadi penyelenggaraan festival yang ke-16.
Chaerudin menjelaskan, anak-anak yang kemudian memiliki rambut gimbal biasanya terlebih dahulu mengalami demam tinggi selama dua hingga tiga hari. Setelah demam mereda, rambut mereka mulai tumbuh menggimbal.
“Setelah panas selama beberapa hari, kemudian reda dengan sendirinya. Setelah itu rambutnya mulai menggimbal dan tumbuh seiring dengan pertambahan usia anak,” ujarnya.
Dalam prosesi tahun ini, permintaan anak-anak bajang cukup beragam. Anindie Cheryl Shaheenna dan Andien Checilia Shaquilla meminta dua ekor kambing kecil, masing-masing jantan dan betina. Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana meminta satu set peralatan makan seperti milik ibunya.
Winda Aulia dan Malayeka Rafana Arabella sama-sama meminta sepeda listrik berwarna pink. Sementara Mafaza Nuha Raisa meminta sepeda warna ungu.
Permintaan lainnya datang dari Hafizah Zia Almahira yang menginginkan sebuah laptop dan sepasang ayam kalasan. Aurellia Aisha Ramadhani meminta perosotan dan ayunan berwarna pink.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
