"Kesan di sini orangnya toleransinya tinggi. Saya kan dari latar belakang Kristen, di sini Muhammadiyah, jadi toleransinya tinggi banget. Saya tetap ditemenin, diajak main juga, dicakapin duluan," ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuat Aurell semakin memahami bahwa perbedaan tidak selalu menjadi jarak. Di lingkungan kampus, perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan belajar.
Karena itu, ia menilai toleransi merupakan nilai yang paling penting untuk terus dijaga di lingkungan perguruan tinggi.
"Paling utama itu toleransi nomor satu, karena kita berbeda-beda, dari suku mana saja yang datang, dari beragam agama," katanya.
Kisah Niswah, Olivia, Angel, dan Aurell memperlihatkan wajah lain kehidupan kampus: mahasiswa datang dari tempat yang berbeda, membawa cerita dan keyakinan yang tidak sama, tetapi kemudian bertemu dalam satu ruang yang sama.
Bagi mereka, UMP bukan hanya tempat untuk mengejar gelar akademik. Kampus juga menjadi ruang perjumpaan, tempat belajar memahami perbedaan, membangun persahabatan, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin beragam.
Dari Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Sumatra Utara hingga Riau, perjalanan mereka bermuara di Purwokerto. Beda pulau, beda latar belakang, bahkan beda keyakinan, tetapi memiliki satu ruang untuk tumbuh bersama yakni kampus UMP.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
