Menurut Chusni, kekayaan tersebut dikemas dalam tiga jalur geowisata atau geotrail. Jalur pertama, “The True History of Mother Earth and Plate Tectonic Theory”, mengajak wisatawan memahami sejarah bumi dan teori tektonik lempeng.
Jalur kedua, “The Cave: Natural and Human Life”, mengangkat proses karstifikasi dan vulkanik serta keterkaitannya dengan kehidupan manusia, biodiversitas, dan budaya di kawasan gua.
Sementara jalur ketiga, “The Paradise of Oceanic Warmth & Culture”, mengeksplorasi kawasan pesisir Kebumen dengan menggabungkan pemahaman mengenai proses geologi dan budaya masyarakat.
“Keunggulan Kebumen UGGp tidak hanya terletak pada ancient land atau bukti geologi berumur Kapur, tetapi juga living nature dan living culture yang berkembang di tengah masyarakat,” kata Chusni dalam paparannya.
Ia mengatakan, perpaduan geologi, alam, dan budaya tersebut membuka peluang pengembangan berbagai segmen pariwisata, mulai dari geowisata, wisata edukasi, wisata petualangan, pariwisata berbasis masyarakat hingga MICE.
Salah satu media promosi yang dikembangkan adalah Kebumen Geopark Trail Run (KGTR). Kegiatan ini memadukan olahraga, petualangan, sekaligus pengenalan destinasi geopark kepada peserta.
Rute lomba dirancang melewati berbagai bentang alam Kebumen, mulai dari kawasan pantai, perbukitan, hutan hingga desa wisata. Peserta tidak sekadar mengikuti perlombaan, tetapi juga menikmati langsung kekayaan alam dan geologi kawasan geopark.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
