PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Ada yang akrab di telinga setiap kali kereta api tiba di stasiun-stasiun wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto.
Di antara suara pengumuman perjalanan, deru lokomotif, dan langkah penumpang yang bergegas menuju peron, mengalun sebuah lagu berjudul Di Tepinya Sungai Serayu.
Bagi sebagian orang, lagu itu mungkin hanya penanda kedatangan kereta. Namun, bagi masyarakat Banyumas, alunan tersebut menyimpan cerita tentang seorang maestro musik yang karyanya melintasi zaman yakni Raden Soetedjo.
Selama puluhan tahun, lagu tersebut menjadi bagian dari pengalaman perjalanan penumpang kereta api di wilayah Daop 5 Purwokerto. Tidak semua orang yang mendengarnya mengetahui siapa penciptanya, apalagi perjalanan panjang sang komponis dalam mengabdikan hidupnya kepada musik.
Kini, sosok Raden Soetedjo mendapat ruang tersendiri di tempat yang selama ini akrab dengan karyanya. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto meresmikan patung Raden Soetedjo di area boarding Stasiun Purwokerto, Rabu (21/10/2026).
Patung itu bukan sekadar penghias ruang publik. Kehadirannya menjadi bentuk penghormatan kepada maestro musik asal Banyumas tersebut, sekaligus ungkapan terima kasih kepada keluarga dan ahli warisnya yang selama ini tidak menarik royalti atas penggunaan lagu Di Tepinya Sungai Serayu sebagai bel kedatangan kereta api.
Di tengah mobilitas ribuan penumpang, patung itu diharapkan menjadi pengingat bahwa sebuah lagu dapat menyimpan identitas daerah dan menghubungkan masyarakat dengan sejarah yang mungkin perlahan terlupakan.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
