Rupiah Melemah ke Rp17.706 per Dolar AS, Harga Pangan Impor Berpotensi Naik
Pasar juga menyoroti perubahan arah kebijakan bank sentral AS setelah Gedung Putih mengumumkan rencana pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell.
Investor dinilai masih berhati-hati menunggu arah kebijakan suku bunga AS di bawah kepemimpinan baru bank sentral tersebut.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga pangan impor pada semester II 2026.
Indonesia dinilai masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap sejumlah komoditas impor seperti gandum, kedelai, bawang putih, gula, hingga daging sapi dan kerbau.
Gandum disebut masih 100 persen impor, sementara kedelai sekitar 90 persen, bawang putih 95 persen, dan gula sekitar 60 persen masih dipenuhi dari luar negeri.
Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor pangan karena mayoritas transaksi internasional menggunakan dolar AS.
Dampaknya, harga berbagai produk konsumsi masyarakat seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan diperkirakan ikut terdorong naik.
Fenomena itu dikenal sebagai imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi akibat melemahnya nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor.
Berdasarkan kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan fluktuatif dan berpotensi melemah di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Editor : Arbi Anugrah