Tugu Pembangunan Purwokerto, Jejak Soekarno dan Hadiah Persahabatan Indonesia-Uni Soviet
Setelah proses pembangunan selesai, Tugu Pembangunan diresmikan pada 1 Juni 1961.
Tanggal tersebut bukan dipilih secara kebetulan. Peresmian dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila yang setiap tahun diperingati pada 1 Juni.
Momentum tersebut semakin memperkuat hubungan simbolis antara Tugu Pembangunan dengan semangat pembangunan nasional yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui masyarakat adalah keterkaitan Tugu Pembangunan dengan hubungan diplomatik Indonesia dan Uni Soviet, yang kini dikenal sebagai Rusia.
Pada masa pemerintahan Soekarno, hubungan Indonesia dengan Moskwa terjalin sangat erat. Kebijakan politik luar negeri Indonesia saat itu cenderung dekat dengan blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.
Sejarah mencatat pembangunan Tugu Pembangunan “Ajoenan Tjangkoel Pertama” memiliki kaitan dengan Nikita Khruschchev, Ketua Dewan Menteri Uni Soviet atau yang setara dengan Perdana Menteri.
Kedekatan hubungan antara Presiden Soekarno dan Nikita Khruschchev turut melahirkan berbagai bentuk kerja sama dan dukungan pembangunan. Salah satunya diwujudkan melalui pembangunan monumen yang kemudian menjadi simbol dimulainya program pembangunan nasional di Purwokerto.
Lebih dari enam dekade setelah berdiri, Tugu Pembangunan masih menjadi salah satu landmark penting di Purwokerto.
Nilai sejarah yang dimilikinya membuat monumen ini resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Banyumas melalui Surat Keputusan Bupati Banyumas pada 23 September 2019.
Penetapan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas peran Tugu Pembangunan sebagai saksi perjalanan sejarah bangsa, khususnya pada masa awal pembangunan nasional era Soekarno.
Bagi masyarakat Purwokerto, monumen ini bukan sekadar penunjuk arah atau penghias kota. Tugu Pembangunan menjadi pengingat akan semangat pembangunan, persatuan, dan cita-cita kesejahteraan yang pernah digelorakan sejak awal kemerdekaan Indonesia.
Hingga kini, keberadaannya tetap menjadi salah satu ikon sejarah Purwokerto yang menyimpan cerita tentang perjalanan bangsa, hubungan internasional Indonesia, dan warisan pemikiran besar Presiden Soekarno.
Editor : Arbi Anugrah