Dua Profesor AS Berbagi Pengalaman Pendidikan Kepemimpinan Interkultural
Pengembangan SMA Soteria Mahardika didampingi konsultan pendidikan internasional Nusa Widyantara Indonesia yang bekerja sama dengan Northern Illinois University. Kolaborasi tersebut bertujuan menghadirkan praktik pendidikan berstandar internasional tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal Indonesia.
Dalam sesi diskusi, kedua profesor juga memperkenalkan konsep service culture dan deep culture. Service culture berkaitan dengan sikap yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, seperti keramahan, tata krama, dan pelayanan. Sementara deep culture menyangkut nilai-nilai mendasar seperti cara berpikir, keyakinan, pola komunikasi, hingga cara memandang keberagaman.
"Pendidikan interkultural yang efektif harus mampu membangun kedua dimensi tersebut secara bersamaan. Peserta didik tidak hanya belajar berperilaku baik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang mendasari setiap tindakan dan menghargai perbedaan," ujar James Cohen.
Kepala SMA Soteria Mahardika Tabita Christiana mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring pendidikan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan mitra internasional.
"Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat melahirkan inovasi pembelajaran yang berdampak bagi peningkatan kualitas pendidikan di Banyumas sekaligus mempersiapkan peserta didik menjadi pemimpin yang mampu berkiprah di tingkat global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia," ujarnya.
Salah satu peserta, Kepala SMP Negeri 1 Patikraja Aris Budiasono, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pemahaman baru tentang perbedaan sekolah interkultural dan sekolah internasional. Menurutnya, sekolah internasional lebih berorientasi pada standar global, sedangkan sekolah interkultural menitikberatkan pada penguatan nilai-nilai keberagaman budaya.
"Selama ini banyak yang menganggap sekolah interkultural sama dengan sekolah internasional. Padahal, sekolah interkultural lebih mengedepankan keberagaman budaya," kata Aris.
Editor : EldeJoyosemito