Kisah Ambulans PMI Banyumas Menjaga Asa Pasien dari Kalangan tak Mampu
PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id - Tangis Ramini pecah begitu kursi rodanya keluar dari terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai buruh migran di Penang, Malaysia, perempuan asal Desa Banjarparakan, Kecamatan Rawalo, Banyumas, itu akhirnya pulang ke kampung halaman.
Namun kepulangannya membawa kabar getir. Karena dia mengalami gagal ginjal yang membuatnya harus menjalani cuci darah seumur hidup.
Di tengah keramaian bandara, pandangan Ramini langsung tertuju kepada Umi, sahabat masa kecil sekaligus relawan pendamping keluarga.
Keduanya berpelukan erat sambil menangis. Di samping Umi, berdiri tim Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banyumas yang sejak dini hari telah menempuh perjalanan menuju Jakarta untuk menjemputnya.
Bagi orang lain, perjalanan dari bandara menuju rumah mungkin sekadar urusan transportasi. Bagi Ramini, perjalanan itu menjadi awal dari harapan baru untuk tetap bertahan hidup.
"Kami ikut menjemput langsung. Pertemuannya sangat mengharukan karena Bu Ramini sudah lama menunggu bisa pulang ke Indonesia," kenang Kepala Bidang Pelayanan PMI Banyumas Sentot Sugiarto.
Namun kisah kemanusiaan itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum pesawat yang membawa Ramini mendarat di Indonesia.
Mata Rantai Pertolongan
Beberapa pekan sebelum kepulangannya, keluarga Ramini menghubungi PMI Banyumas. Mereka bukan hanya membutuhkan ambulans untuk menjemput dari Jakarta, tetapi juga kepastian bahwa setibanya di Banyumas, Ramini bisa segera kembali menjalani hemodialisis.
PMI kemudian berkoordinasi dengan berbagai pihak. Status kepesertaan BPJS Kesehatan Ramini dipastikan aktif melalui skema Universal Health Coverage (UHC) non cut off yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Dengan demikian, perempuan itu cukup menggunakan KTP untuk memperoleh layanan kesehatan tanpa harus melalui proses administrasi yang panjang.
Saat masih berada di Malaysia, biaya pengobatan yang harus ditanggung Ramini mencapai puluhan juta rupiah. Jika pulang tanpa jaminan kesehatan, keluarganya berpotensi menghadapi beban ekonomi yang sangat berat.
"Karena Banyumas sudah menerapkan UHC non cut off, kepesertaan langsung aktif sehingga pelayanan bisa berlanjut. Inilah yang dirasakan Bu Ramini," ujar Sentot.
Berangkat Tengah Malam
Panggilan itu datang menjelang malam. Begitu memperoleh kepastian jadwal kepulangan Ramini, Sentot langsung menyiapkan tim.
Sekitar pukul 23.00 WIB, satu ambulans berisi seorang sopir, seorang perawat, dan seorang pendamping keluarga berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Pendamping itu sengaja dilibatkan karena paling memahami kondisi pasien sekaligus menjadi penghubung komunikasi dengan keluarga selama Ramini berada di Malaysia.
Perjalanan berlangsung lancar. Setibanya di bandara, tim PMI harus menunggu proses serah terima dengan petugas perlindungan pekerja migran Indonesia. Setelah semua prosedur selesai, Ramini akhirnya bisa dibawa pulang.
Di sepanjang perjalanan menuju Banyumas, kondisinya terus dipantau. Ia bisa beristirahat, berbincang, dan sesekali makan.
Malam harinya, ambulans memasuki halaman rumah di Banjarparakan. Sejak sore keluarga dan para tetangga telah menunggu.
Tangis kembali pecah. Kali ini bukan di bandara, melainkan di halaman rumah. Pelukan hangat dan ucapan syukur menyambut kepulangan Ramini setelah berbulan-bulan menjalani perawatan di negeri orang.
Kisah Ramini hanya satu dari ribuan perjalanan kemanusiaan yang dilakukan PMI Banyumas.
Kepala Markas PMI Banyumas Ariono Poerwanto mengatakan, persoalan terbesar pasien gagal ginjal sering kali bukan lagi biaya pengobatan. Biaya hemodialisis telah ditanggung BPJS Kesehatan. Yang menjadi beban justru ongkos menuju rumah sakit.

Satu kali perjalanan menggunakan kendaraan sewaan dapat menghabiskan biaya sekitar Rp250 ribu. Padahal pasien gagal ginjal rata-rata harus menjalani cuci darah dua kali setiap pekan. Dalam sebulan, ongkos transportasi bisa mencapai sekitar Rp2 juta.
"Pengobatannya memang sudah gratis. Yang kami bantu adalah penjemputan dan pengantaran. Kalau tidak, banyak keluarga yang kesulitan," ujar Ariono.
Karena itulah ambulans PMI hadir menutup celah yang belum terjangkau sistem jaminan kesehatan.
Menembus Pegunungan dan Hutan
Tidak semua pasien tinggal di perkotaan. Banyak di antara mereka berasal dari wilayah terpencil. Ambulans PMI kerap harus menembus jalan pegunungan, melintasi kawasan hutan, hingga menjangkau desa-desa di wilayah barat Banyumas. Ada pula pasien dari daerah perbatasan yang membutuhkan perjalanan panjang menuju rumah sakit.
Dalam sehari, PMI bisa melayani lima hingga delapan pasien hemodialisis. Dengan armada yang terbatas, jadwal keberangkatan harus diatur sedemikian rupa agar semua pasien tetap bisa memperoleh layanan. Bagi pasien yang masih mampu duduk, satu kendaraan bahkan dapat mengangkut beberapa orang sekaligus menuju rumah sakit.
Meski demikian, tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi. Ketika seluruh ambulans sedang beroperasi, sebagian pasien memilih menunda jadwal cuci darah. Keputusan itu tentu bukan tanpa risiko, tetapi keterbatasan biaya transportasi membuat mereka tak memiliki banyak pilihan.
Sepanjang 2025, PMI Banyumas mencatat telah memberikan 3.433 layanan ambulans gratis. Sekitar 80 persen di antaranya diperuntukkan bagi pasien gagal ginjal yang harus menjalani hemodialisis rutin. Seluruh layanan dibiayai dari dana Bulan Dana PMI sehingga masyarakat tidak dipungut biaya.
Bagi Ariono, ambulans gratis bukan sekadar layanan transportasi. Kehadiran ambulans merupakan bentuk gotong royong masyarakat agar warga kurang mampu tetap dapat mengakses pelayanan kesehatan.
Di Banyumas, mata rantai itu saling menyambung. Pemerintah daerah memastikan jaminan kesehatan melalui UHC, BPJS menanggung biaya pengobatan, rumah sakit memberikan layanan medis, sementara PMI memastikan pasien benar-benar bisa tiba di ruang perawatan.
Di balik bunyi sirene ambulans yang melintas di jalan raya, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang jarang terlihat. Kisah tentang keluarga yang tak lagi bingung mencari ongkos menuju rumah sakit.
Kisah tentang relawan yang rela berangkat tengah malam menjemput pasien dari bandara. Dan kisah tentang harapan yang tetap hidup, selama masih ada tangan-tangan yang bersedia mengantarkan sesama menuju kesempatan untuk bertahan.
Dalam beberapa kali kesempatan, Ketua PMI Banyumas Nungky Harry Rachmat menekankan bahwa PMI bukan sekadar organisasi, melainkan barisan kemanusiaan yang harus selalu siap membantu tanpa memandang latar belakang.
“PMI berdiri sebagai satu barisan, barisan kemanusiaan. Barisan yang tidak pernah bertanya ‘siapa dia’, tetapi selalu menjawab ‘kita harus hadir’,” tegasnya
Nungky menyatakan pentingnya kecepatan, ketepatan, dan ketulusan dalam setiap respons PMI terhadap situasi darurat. Ia menegaskan bahwa kehadiran PMI harus selalu menjadi yang terdepan saat masyarakat membutuhkan bantuan.
“PMI adalah panggilan kemanusiaan. Di dalamnya ada semangat kerelawanan, keikhlasan, dan keberanian untuk hadir dalam kecepatan, ketepatan, dan ketulusan pengabdian,”tambahnya.
Editor : EldeJoyosemito