get app
inews
Aa Text
Read Next : Miris! Suami Aniaya Istri Hamil 8 Bulan di Banyumas, Polisi Ungkap Kronologi

Inflasi Banyumas Raya Terkendali, BI: Harga Pangan Turun Berkat Pasokan Melimpah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 12:39 WIB
header img
Salah satu upaya pengendalian inflasi dengan menggelar pasar murah. (Foto: Istimewa)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Laju inflasi di wilayah Banyumas Raya yang meliputi Purwokerto dan Cilacap tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen pada Juli 2026. 

Kondisi tersebut didukung oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan, terutama bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit, seiring meningkatnya pasokan dari sentra produksi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto mengalami deflasi bulanan sebesar 0,05 persen (month to month/mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 2,66 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang mencatat inflasi 0,12 persen (mtm) dan 2,79 persen (yoy).

Sementara itu, Kota Cilacap juga mencatat deflasi sebesar 0,06 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,44 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 0,10 persen (mtm) dan 2,88 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto Aswin Gantina mengatakan, inflasi yang tetap terkendali merupakan hasil sinergi kebijakan Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta penguatan program ketahanan pangan.

"Inflasi di Purwokerto dan Cilacap pada Juli 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional. Kondisi ini menunjukkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi yang dilakukan bersama TPID, didukung terjaganya pasokan pangan dan berbagai program stabilisasi harga di daerah," kata Aswin.

Secara nasional, Juli 2026 juga mencatat deflasi sebesar 0,14 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,88 persen (yoy), sedangkan Provinsi Jawa Tengah mengalami deflasi 0,13 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,60 persen (yoy). Namun, deflasi di Purwokerto dan Cilacap tercatat tidak sedalam tingkat nasional maupun Jawa Tengah.

Menurut Aswin, penurunan harga komoditas hortikultura menjadi faktor utama yang menekan inflasi di Banyumas Raya. Selain bawang merah dan cabai, harga telur ayam ras juga terus menurun karena pasokan yang memadai, sementara harga emas perhiasan ikut terkoreksi akibat pelemahan harga emas global.

"Peningkatan produksi pada musim panen membuat pasokan hortikultura melimpah sehingga harga turun. Di sisi lain, pasokan telur ayam ras yang cukup juga membantu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen," ujarnya.

Meski demikian, laju deflasi tertahan oleh kenaikan harga bensin yang berdampak pada tarif angkutan dan biaya distribusi barang. Harga telepon seluler juga mengalami kenaikan seiring masih tingginya permintaan masyarakat terhadap perangkat komunikasi.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, penyumbang utama deflasi di Banyumas Raya berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Di Purwokerto, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi 1,10 persen dengan andil minus 0,33 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi 0,34 persen dengan andil minus 0,02 persen.

Adapun di Cilacap, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat deflasi 1,07 persen dengan kontribusi minus 0,35 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,56 persen dengan andil minus 0,04 persen. Sementara itu, kelompok transportasi masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di kedua wilayah tersebut.

Selama Juli 2026, berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program tersebut diwujudkan antara lain melalui penyelenggaraan Pasar Murah Inflasi Banyumas (SARAHSIMAS), pasar murah dalam rangka kegiatan TMMD Sengkuyung Tahap III, hingga pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas pangan.

Selain itu, TPID Kabupaten Banyumas juga menggelar High Level Meeting (HLM) untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi El Nino terhadap ketersediaan pangan. Koordinasi rutin bersama pedagang besar, asosiasi, kelompok tani, serta penguatan komunikasi publik melalui media dan pengembangan jaringan distribusi pangan melalui toko tani juga terus dilakukan guna menjaga stabilitas harga.

Aswin menegaskan, BI bersama TPID akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif kepada masyarakat.

"Ke depan kami akan terus memperkuat implementasi strategi 4K melalui GPIPS agar stabilitas harga tetap terjaga, pasokan pangan tersedia, distribusi berjalan lancar, dan inflasi Banyumas Raya tetap berada dalam sasaran nasional," kata Aswin.

Editor : EldeJoyosemito

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut