Salat Istisqa Digelar di Sejumlah Titik di Kota Purwokerto, Ikhtiar Memohon Turunnya Hujan
Sadewo juga menyampaikan apresiasi kepada para ulama, tokoh agama, dan masyarakat yang turut mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan dan keikhlasan dalam menghadapi kemarau menjadi bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan Banyumas yang semakin produktif, adil, dan sejahtera.
Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Banyumas turut menggerakkan masyarakat untuk mengikuti Salat Istisqa. Nur Hidayah, warga Tanjung, Purwokerto, mengaku tergerak secara nurani untuk ikut berdoa agar hujan segera turun.
Dia prihatin karena kemarau yang berlangsung lama membuat sebagian warga kesulitan memperoleh air bersih. Meski tempat tinggalnya masih memiliki persediaan air yang cukup, dia menyadari banyak masyarakat di wilayah lain yang harus mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Karena tahun ini musim kemaraunya lama banget, hujan juga belum turun-turun,” ujarnya.
Nur mengatakan, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang tidak selalu mudah diperoleh semua orang. Dia juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang dinilai masih kurang bijak dalam menggunakan air.
“Kadang ada yang mengisi bak air di penampungan sampai meluap, minum kalau tidak habis dibuang begitu saja. Ternyata masih banyak orang-orang yang butuh air untuk kehidupan. Harus menunggu bantuan air dulu, harus jalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencari sumber air,” tuturnya.
Dia berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menghemat air, terutama ketika kemarau berkepanjangan membuat persediaan air bersih semakin terbatas.
Keluhan serupa disampaikan Ade, warga Purwokerto Timur. Dia mengatakan, kemarau di wilayah tempat tinggalnya telah berlangsung lebih dari enam bulan. Hujan memang sempat turun, tetapi hanya sebentar sehingga belum cukup membantu memulihkan ketersediaan air.
Editor: EldeJoyosemito