Sidat Jadi Komoditas Andalan Ubah Desa yang Awalnya Miskin untuk Lebih Berdaya

Elde Joyosemito
Ikan sidat (Anguilla bicolor) yang selama ini dikenal sebagai komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi perlahan mengubah cara warga melihat potensi desa. (Foto: iNewsPurwokerto)

Proses tersebut bukan pekerjaan mudah. Terlebih ketika bibit masih berukuran kecil dan membutuhkan perawatan lebih telaten dibandingkan sejumlah jenis ikan konsumsi lainnya.

Namun, ketekunan warga perlahan menunjukkan hasil. Dari bibit sekitar 82 kilogram, kelompok mampu mengembangkan biomassa sidat hingga mencapai 283 kilogram.

Ukuran panen yang dibidik pun cukup spesifik, yakni satu kilogram berisi sekitar empat ekor sidat.

Sembilan Bulan Menunggu, Harga Sidat Menggiurkan

Budidaya sidat membutuhkan kesabaran. Ikan tersebut baru dapat dipanen setelah melalui masa pembesaran sekitar sembilan bulan.

" Sembilan bulan sekali panennya. Enggak kayak lele, ya. Kalau lele kan tiga bulan sekali. Kalau sidat ini istimewa, sembilan bulan sekali," kata Community Development Officer (CDO) PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lomanis, Ita Puspitasari.

Waktu pemeliharaan yang panjang tersebut sebanding dengan nilai ekonomi yang dihasilkan. Sidat hasil budidaya warga dapat dijual dengan harga sekitar Rp165 ribu per kilogram.

Editor : EldeJoyosemito

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5 6

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network