Pada panen perdana, kelompok mampu menghasilkan sekitar 250 kilogram sidat. Hasil panen tersebut langsung dibeli koperasi mitra untuk selanjutnya dipasarkan.
"Karena kita kerja sama dengan koperasi, jadi hasilnya itu langsung diambil koperasi, langsung dibeli koperasi," ujar Ita.
Pasar sidat juga cukup menjanjikan. Komoditas ini memiliki permintaan dari pasar luar negeri, salah satunya Jepang.
Namun, warga tidak ingin berhenti pada penjualan ikan segar.
Ketika Sidat Menjelma Abon dan Sambal
Dari kolam pembesaran, perjalanan sidat berlanjut ke dapur-dapur warga. Ikan yang tidak terserap pasar segar diolah menjadi produk pangan dengan nilai jual yang lebih tinggi.
"Jadi kalau sidat adalah satu, itu jadi abon sidat. Kedua, ada abon kayabaki. Yang ketiga, kepala sidat menjadi kerupuk sidat. Yang berikutnya menjadi sambal sidat," kata Misbah.
Pengolahan tersebut membuat nilai ekonomi sidat menjadi lebih panjang. Ikan yang sebelumnya hanya bernilai ketika dijual dalam kondisi segar kini dapat menghasilkan produk turunan.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
