Menurut dia, salah satu ciri khas DCF adalah budaya yang tetap menjadi fokus utama festival. Berbeda dengan banyak event yang mengandalkan kehadiran artis ternama, penyelenggara DCF justru tidak menjadikan nama pengisi hiburan sebagai daya tarik utama.
"Tahun ke tahun biasanya artis-artisnya tidak pernah dimunculkan, tidak pernah disebutkan siapa, karena ingin sekali yang hadir di acara ini benar-benar ingin menikmati budaya Pegunungan Dieng," ujarnya.
Selain kegiatan budaya, penyelenggaraan DCF tahun ini juga dimeriahkan Festival Kopi Pegunungan Dieng. Ajang tersebut menjadi sarana untuk mempromosikan produk kopi lokal sekaligus melibatkan lebih banyak pelaku usaha kecil dan menengah.
Amalia mengatakan pengembangan komoditas kopi memiliki kaitan dengan upaya pemerintah daerah menjadikan Banjarnegara sebagai kabupaten konservasi.
"Banjarnegara kami ingin menjadi kabupaten konservasi. Kami membawa isu lingkungan, dan salah satunya melalui kopi," katanya.
Ia menyebut kopi Banjarnegara memiliki kualitas yang mampu bersaing secara nasional. Tahun ini, kopi Arabika Banjarnegara meraih juara kedua tingkat nasional, sedangkan kopi Robusta memperoleh juara ketiga.
"Mudah-mudahan nanti para pengunjung bisa menikmati nikmatnya kopi Pegunungan Dieng," kata Amalia.
Amalia juga menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dalam pengembangan kawasan Dieng yang secara administratif berada di wilayah Banjarnegara dan Wonosobo.
Menurut dia, Dieng harus dipandang sebagai kekayaan bersama yang pengembangannya membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
