Inovasi Keren Siswa, dari Robot Pembersih Sungai hingga Kapal dan Sepeda Tenaga Surya

Elde Joyosemito
Kreativitas siswa dalam menjawab persoalan lingkungan ditampilkan melalui puluhan inovasi teknologi ramah lingkungan. (Foto: iNewsPurwokerto)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Kreativitas siswa dalam menjawab persoalan lingkungan ditampilkan melalui puluhan inovasi teknologi ramah lingkungan dalam Puhua Student Fair 2.0 2026 di Puhua School Purwokerto, Sabtu (7/11/2026).

Berbagai karya yang dipamerkan terbilang menarik. Mulai dari robot pembersih sungai, kapal pengumpul sampah bertenaga surya, tempat sampah pintar, hingga alat pengering hasil pertanian dengan memanfaatkan energi matahari.

Pameran tersebut menjadi ajang bagi siswa untuk menunjukkan hasil penelitian dan pengembangan gagasan yang telah mereka kerjakan selama beberapa bulan. Tidak sekadar memamerkan prototipe, para siswa juga ditantang menjelaskan cara kerja, manfaat, serta kemungkinan penerapan teknologi tersebut di tengah masyarakat.

Mengusung tema Four Heroes, One Mission: Transforming Ideas into a Sustainable Future, kegiatan ini melibatkan siswa kelas 8, 10, dan 11. Mereka mengembangkan proyek melalui pembelajaran lintas bidang yang memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan kepedulian sosial.

Selain inovasi pengelolaan sampah, sejumlah siswa menghadirkan gagasan mengenai pemanfaatan energi terbarukan, sistem peringatan dini banjir, pengolahan air dan polusi, hingga pengembangan produk kewirausahaan.

Kepala Sekolah Puhua Secondary Arinta Dewi mengatakan, sekolah memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan gagasan menjadi penelitian dan karya yang memiliki manfaat nyata.

"Di Puhua, siswa tidak hanya diminta memahami teori, tetapi diberi ruang untuk mengubah pertanyaan menjadi penelitian, gagasan menjadi prototipe, dan kepedulian menjadi karya. Nilai pendidikan hadir bukan semata-mata pada hasil akhirnya, melainkan juga pada keberanian mencoba, ketelitian menguji, serta kesediaan memperbaiki," ujarnya.

Salah satu program yang mendukung pengembangan inovasi tersebut adalah Big Project Fellowship. Program ini memberikan pendanaan penuh untuk penelitian siswa kelas 11.

Dari 15 proposal penelitian yang diajukan, sebanyak delapan proyek terpilih melalui proses seleksi oleh tim guru Science dan Social Studies. Para siswa yang lolos mendapatkan pendampingan mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian, hingga monitoring dan evaluasi.

Pendampingan dilakukan setiap pekan selama dua bulan untuk memastikan penelitian berjalan terarah dan menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk menjaga kualitas penilaian, Puhua Student Fair 2.0 juga melibatkan juri eksternal dari kalangan praktisi dan pegiat lingkungan. Mereka adalah Rizki Riyansyah, aktivis lingkungan sekaligus Tim Advokasi dan Pengorganisasian WALHI Jawa Tengah, serta Silvia Melinda dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas.

Penilaian mencakup ketepatan ilmiah, dampak terhadap lingkungan, potensi keberlanjutan, kreativitas, kelayakan penerapan, serta kemampuan siswa menjelaskan proses dan hasil penelitian.

Pengelola Layanan Operasional DLH Kabupaten Banyumas Silvia Melinda mengapresiasi beragam gagasan yang dihasilkan para siswa. Menurut dia, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap persoalan lingkungan.

"Kalau saya lihat, acara hari ini sangat keren dan memotivasi. Siswa-siswinya juga sangat inovatif karena ada beberapa proyek yang luar biasa," katanya.

Dia mengingatkan, upaya menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga perlu mengambil bagian melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah sejak dari sumbernya, mengurangi pencemaran air, dan membangun kebiasaan positif di lingkungan sekitar.

Silvia berharap kegiatan semacam itu dapat terus dikembangkan sehingga kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi menjadi bagian dari perilaku sehari-hari generasi muda.

Sementara itu, juri eksternal dari WALHI Jawa Tengah Rizki Riyansyah menilai sejumlah inovasi siswa memiliki potensi untuk dikembangkan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satu karya yang menarik perhatiannya adalah alat pengering hasil pertanian berbasis energi matahari. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu petani maupun nelayan dalam mengolah hasil produksi, terutama ketika musim hujan membuat proses pengeringan terkendala cuaca.

Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi kerap berdampak terhadap pengeringan hasil pertanian dan produk perikanan. Karena itu, teknologi alternatif berbasis energi matahari berpotensi menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca.

"Ini sangat aplikatif dan adaptif. Walaupun memang tidak semuanya bisa diimplementasikan dan berkelanjutan di masyarakat, saya melihat ada beberapa karya yang sebenarnya bisa diterapkan," ujar Rizki.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa inovasi tidak cukup berhenti pada pembuatan prototipe. Diperlukan pengujian lebih lanjut dan kerja sama dengan pemerintah maupun masyarakat agar teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Pelibatan masyarakat sejak awal juga dinilai penting agar siswa dapat memahami persoalan nyata sekaligus menghasilkan inovasi yang tepat guna.

Melalui Puhua Student Fair 2.0 2026, sekolah berharap siswa semakin terbiasa menghubungkan ilmu pengetahuan dengan tantangan di lingkungan sekitar. Pengalaman melakukan penelitian, menguji gagasan, dan mengembangkan prototipe diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat dan berkelanjutan.
 

Editor : EldeJoyosemito

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network