Generasi Muda Ujung Tombak Indonesia, Erick Thohir: Jangan Kebiasaan Menjadi Penonton

Arbi Anugrah
.
Selasa, 05 Juli 2022 | 16:07 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berkomitmen meningkatkan kesiapan para generasi muda untuk siap bersaing dalam era disrupsi. (Foto: Ist)

PURWOKERTO, iNews.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berkomitmen meningkatkan kesiapan para generasi muda untuk siap bersaing dalam era disrupsi. Ia mengatakan generasi muda merupakan ujung tombak dalam mewujudkan Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia pada 2045. 

Hal tersebut disampaikan dalam kuliah umum tokoh nasional di Universitas Jenderal Sedirman (Unsoed) Purwokerto bertajuk 'Kolaborasi BUMN dan Perguruan Tinggi dalam Menciptakan Generasi Digital di era Disrupsi' Selasa (5/7/2022).

"Sudah waktunya kalian mengisi. Jangan kebiasaan menjadi penonton. Kita negara yang kaya sumber daya alam (SDA) dan market yang besar, tetapi dari zaman Belanda dipakai untuk pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan negara lain," ujar Erick saat mengisi kuliah umum.

Di hadapan ribuan mahasiswa Unsoed, mantan Presiden Inter Milan itu menyebut Indonesia harus punya ekosistem sendiri dan tak lagi tergantung pada ekosistem negara lain, baik Cina atau Amerika Serikat (AS). Erick tak ingin tren pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi sumber bagi perekonomian negara lain.

Saat ini, ucap Erick, Indonesia sedang menghadapi tantangan lima disrupsi global mulai dari geo-ekonomi, demografi, lingkungan, kesehatan, dan teknologi. Erick menyampaikan, perang Rusia-Ukraina menjadi penyebab utama timbulnya geo-ekonomi yang berdampak pada terganggunya rantai pasok dunia. Kondisi tersebut tentu akan berpengaruh pada Indonesia yang selama ini masih impor BBM. 

"Kalau benar Rusia menyetop produksi minyaknya, minyak akan sampai harganya 380 dolar AS per barel. Hari ini Indonesia negara yang impor BBM bukan swasembada BBM, pemerintah mengeluarkan Rp 350 triliun untuk mensubsidi BBM dan listrik, itu dengan catatan harganya 100 sampai 110 dolar AS per barel. Kalau 380 dolar AS per barel berarti kita harus subsidi Rp 1.400 triliun, tidak sanggup. Data-data menunjukkan 60 negara akan menuju kebangkrutan, bukan Indonesia asal disiplin," jelasnya.

Erick menyampaikan tantangan yang sangat penting juga datang dari disrupsi digital yang mengubah ini pola kehidupan manusia hingga lapangan pekerjaan. Erick menyebut tumbuhnya jenis pekerjaan baru akibat disrupsi digital tak sebanding dengan hilangnya jenis pekerjaan yang lama.

Indonesia, ucap Erick, memiliki potensi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dan diprediksi mencapai Rp 4.500 triliun pada 2030. Angka tersebut delapan kali lebih besar dari PDB Indonesia. Erick menilai pengembangan teknologi dan digitalisasi menjadi keharusan untuk mempersiapkan gelombang kedua dan ketiga disrupsi digital yang mulai terjadi. 

"Kita harus memikirkan bagaimana caranya mengisi kemerdekaan dengan kedaulatan pangan, energi, maupun ekonomi. Ekonomi digital adalah ekonomi masa depan kita dengan kesempatan dan market besar," ucap Erick.

Halaman : 1 2
Bagikan Artikel Ini