Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bangunan Kantor Desa Kemutug Kidul di Lereng Selatan Gunung Slamet Ini Mirip Istana Negara
Advertisement . Scroll to see content

Andy F Noya Kenang Momen Penonton Bertahan Saat Hujan di Jazz Gunung Slamet

Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:44 WIB
  • author Arbi Anugrah
Andy F Noya Kenang Momen Penonton Bertahan Saat Hujan di Jazz Gunung Slamet
Jazz Gunung Slamet 2026 kembali membuktikan daya tariknya sebagai festival musik yang mampu menyatukan jazz, alam, dan semangat para penonton. Foto: Arbi Anugrah

BANYUMAS, iNewsPurwokerto.id - BRI Jazz Gunung Slamet 2026 kembali membuktikan daya tariknya sebagai festival musik yang mampu menyatukan jazz, alam, dan semangat para penonton. Meski hujan sempat mengguyur kawasan Wana Wisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, Sabtu (27/6/2026), ribuan pengunjung tetap bertahan hingga pertunjukan kembali berlangsung.

Begitu hujan mereda, area konser kembali dipenuhi penonton yang duduk lesehan menikmati udara sejuk kaki Gunung Slamet. Suasana malam semakin hidup ketika grup musik NonaRia membuka penampilan dengan lagu Juwita Malam, disambut tepuk tangan meriah dari para pengunjung.

Festival tahun ini mengusung tema "Jazztination", yang memadukan pertunjukan musik jazz dengan panorama alam pegunungan. Penonton disuguhi penampilan lintas generasi mulai dari Mocca, NonaRia, Amelia Ong, Emptyyy, hingga Kevin Yosua Big 6.

Antusiasme penonton mendapat perhatian khusus dari tokoh publik Andy F Noya yang turut hadir dalam acara tersebut. Menurutnya, loyalitas penonton menjadi alasan Jazz Gunung Slamet mampu terus digelar hingga memasuki penyelenggaraan ketiga.

"Kenapa Jazz Gunung ini bisa tiga kali di Gunung Slamet? Karena ada teman-teman yang datang untuk menonton," katanya.

Andy kemudian mengenang pengalaman pada penyelenggaraan tahun sebelumnya yang juga diguyur hujan deras. Saat itu panitia bahkan harus mengundur jadwal konser hingga pukul 20.00 WIB.

"Karena Jazz Gunung ini memang membutuhkan penonton-penonton yang fanatik. Tahun lalu hujan juga. Jam 6 hujan deras. Sampai kita harus mengundurkan acaranya dimulai jam 8 malam," ucapnya.

Ia mengaku sempat pesimistis acara bisa dilanjutkan. Namun sesampainya di lokasi, pemandangan yang terlihat justru membuatnya terharu.

"Kami jujur aja hari itu udah nyerah. Kita bilang Tuhan apa yang terjadi, terjadilah. Dan ada keajaiban, teman-teman. Karena kami waktu sampai di sini kami kaget. Banyak teman-teman yang masih bertahan sini kerukupan sama plastik," ujarnya.

Jazz Gunung Indonesia yang diprakarsai Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan almarhum Djaduk Ferianto terus mengembangkan konsep konser di kawasan pegunungan sebagai bagian dari promosi pariwisata Indonesia.

Melalui Jazz Gunung Series, penyelenggara ingin menghadirkan pengalaman berbeda dengan menggabungkan musik, budaya, alam, serta destinasi wisata unggulan di berbagai daerah.

Tema "Jazztination" tahun ini dipilih untuk memperkuat konsep tersebut sehingga penonton tidak hanya menikmati pertunjukan musik, tetapi juga keindahan alam Baturraden.

Pendiri Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, menegaskan festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

Editor: Arbi Anugrah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut