Tradisi Pengambilan Air Tuk Sikopyah Jadi Ikon Hari Kedua Festival Gunung Slamet
Menurut Tuwuh, keberadaan Tuk Sikopyah sempat berubah setelah bencana longsor dan banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada awal 2026. Namun mata air kembali muncul di bawah Watu Langgar dengan sumber yang sama sehingga kini lebih mudah dijangkau masyarakat.
"Perubahan lokasi mata air menjadi hikmah bagi masyarakat. Air tetap mengalir dari sumber yang sama, bahkan sekarang lebih mudah diakses. Penyatuan air dari seluruh lodong melambangkan persatuan doa dan harapan seluruh warga," katanya.
Sesampainya di lokasi festival, rombongan kirab disambut Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani beserta istri, jajaran Forkopimda, perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bank Indonesia Purwokerto, serta tamu undangan lainnya.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyatuan air dari Kendi Pratolo dan seluruh lodong ke dalam satu wadah besar. Setelah Bupati menuangkan air terlebih dahulu, prosesi diteruskan oleh Wakil Bupati, para pejabat, serta seluruh pembawa lodong.
Air yang telah disatukan bersama gunungan hasil bumi kemudian didoakan oleh sesepuh adat. Setelah itu dilakukan penabuhan gong sebagai penanda masyarakat dipersilakan mengambil air Tuk Sikopyah dan memperebutkan gunungan hasil bumi yang diyakini membawa berkah.
Editor: EldeJoyosemito