get app
inews
Aa Text
Read Next : Miris! Suami Aniaya Istri Hamil 8 Bulan di Banyumas, Polisi Ungkap Kronologi

Banyumas, Purbalingga dan Wonosobo Jadi Percontohan Program Cegah Kebutaan

Selasa, 07 Juli 2026 | 14:55 WIB
header img
Pemprov Jawa Tengah  memperkuat sistem layanan kesehatan mata yang lebih inklusif melalui Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE). (Foto: iNewsPurwokerto)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id Pemprov Jawa Tengah  memperkuat sistem layanan kesehatan mata yang lebih inklusif melalui Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE). 

Program tersebut diimplementasikan sebagai proyek percontohan di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo sebagai upaya menekan angka kebutaan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, mengatakan penguatan layanan kesehatan mata dilakukan secara menyeluruh, mulai dari edukasi masyarakat, deteksi dini gangguan penglihatan, penguatan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, hingga sistem rujukan dan pemantauan berkelanjutan.

"Masalah terbesar yang kami hadapi adalah masih rendahnya pengetahuan masyarakat. Sekitar 60 persen kasus kebutaan terjadi karena kurangnya informasi sehingga pasien terlambat memeriksakan kondisi matanya. Karena itu edukasi menjadi langkah yang sangat penting," kata Zulfachmi saat peluncuran Program I-SEE di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa (7/7/2026).

Berdasarkan data Dinkes Provinsi Jawa Tengah, prevalensi katarak di wilayah tersebut mencapai sekitar 2,4 persen. Penyakit itu menjadi penyebab sekitar 80 persen kasus kebutaan.

Menurut Zulfachmi, pemerintah daerah telah menyiapkan empat strategi utama untuk memperkuat layanan kesehatan mata. Strategi pertama dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat lewat edukasi, promosi kesehatan, pencegahan, serta deteksi dini gangguan penglihatan.

Strategi berikutnya adalah mengoptimalkan pelayanan di puskesmas melalui kerja sama dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) guna memperluas penemuan kasus di masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat kapasitas rumah sakit agar mampu memberikan pelayanan rujukan secara cepat sehingga pasien memperoleh penanganan tepat waktu. Seluruh pelaksanaan program akan disertai monitoring dan evaluasi untuk memastikan sistem pelayanan dan pelaporan berjalan efektif.

Zulfachmi menambahkan, selain katarak, kebutaan juga dapat dipicu penyakit lain, seperti retinopati diabetik, glaukoma, maupun kelainan bawaan. Ia mengingatkan masyarakat, khususnya yang berusia di atas 50 tahun, agar tidak menunda pemeriksaan mata apabila mulai mengalami gangguan penglihatan.

"Semakin lama katarak dibiarkan, tingkat kesulitan operasinya akan semakin tinggi. Karena itu deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting," ujarnya.

Direktur Pelaksana YSKK sekaligus Koordinator Proyek I-SEE, Iwan Setiyoko, mengatakan Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo dipilih sebagai daerah percontohan setelah melalui asesmen kebutuhan. Ketiga daerah dinilai memiliki kebutuhan layanan kesehatan mata yang cukup tinggi serta komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan program.

"Kami melihat adanya kebutuhan yang besar sekaligus dukungan pemerintah daerah yang kuat sehingga program ini diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan," katanya.

Sementara itu, Country Director CBM Global Indonesia, Marisa Kristianah, mengatakan Program I-SEE tidak hanya berfokus pada peningkatan layanan medis, tetapi juga mendorong fasilitas kesehatan yang lebih inklusif bagi seluruh masyarakat.

Menurut dia, pihaknya melibatkan organisasi penyandang disabilitas untuk menilai aksesibilitas puskesmas dan rumah sakit, termasuk ketersediaan jalur landai, toilet ramah disabilitas, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

"Layanan kesehatan harus dapat diakses semua orang, termasuk penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil," ujarnya.

Marisa juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu menjalani operasi katarak. Menurutnya, prosedur operasi relatif singkat, sekitar 15 menit, dengan masa pemulihan penglihatan rata-rata sekitar dua pekan.

Ia menambahkan, layanan operasi katarak telah dijamin melalui BPJS Kesehatan. Masyarakat di daerah yang telah mencapai cakupan Universal Health Coverage (UHC) 100 persen dapat menjalani operasi tanpa dikenai biaya.

Editor : EldeJoyosemito

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut