Kisah Ambulans PMI Banyumas Menjaga Asa Pasien dari Kalangan tak Mampu
Dengan demikian, perempuan itu cukup menggunakan KTP untuk memperoleh layanan kesehatan tanpa harus melalui proses administrasi yang panjang.
Saat masih berada di Malaysia, biaya pengobatan yang harus ditanggung Ramini mencapai puluhan juta rupiah. Jika pulang tanpa jaminan kesehatan, keluarganya berpotensi menghadapi beban ekonomi yang sangat berat.
"Karena Banyumas sudah menerapkan UHC non cut off, kepesertaan langsung aktif sehingga pelayanan bisa berlanjut. Inilah yang dirasakan Bu Ramini," ujar Sentot.
Berangkat Tengah Malam
Panggilan itu datang menjelang malam. Begitu memperoleh kepastian jadwal kepulangan Ramini, Sentot langsung menyiapkan tim.
Sekitar pukul 23.00 WIB, satu ambulans berisi seorang sopir, seorang perawat, dan seorang pendamping keluarga berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Pendamping itu sengaja dilibatkan karena paling memahami kondisi pasien sekaligus menjadi penghubung komunikasi dengan keluarga selama Ramini berada di Malaysia.
Perjalanan berlangsung lancar. Setibanya di bandara, tim PMI harus menunggu proses serah terima dengan petugas perlindungan pekerja migran Indonesia. Setelah semua prosedur selesai, Ramini akhirnya bisa dibawa pulang.
Di sepanjang perjalanan menuju Banyumas, kondisinya terus dipantau. Ia bisa beristirahat, berbincang, dan sesekali makan.
Malam harinya, ambulans memasuki halaman rumah di Banjarparakan. Sejak sore keluarga dan para tetangga telah menunggu.
Tangis kembali pecah. Kali ini bukan di bandara, melainkan di halaman rumah. Pelukan hangat dan ucapan syukur menyambut kepulangan Ramini setelah berbulan-bulan menjalani perawatan di negeri orang.
Editor : EldeJoyosemito