Sejarah Stasiun Slawi yang Beroperasi Sejak 1885, Dulunya untuk Angkut Teh dan Tembakau
Sementara hingga Juli 2026, rata-rata volume penumpang telah mencapai 23.417 orang per bulan. Angka tersebut meningkat sekitar 40 persen dibandingkan 2023.
"Pertumbuhan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api. Bagi KAI, setiap peningkatan jumlah pelanggan merupakan kepercayaan yang harus dijawab dengan pelayanan yang semakin aman, nyaman, tepat waktu, dan efisien," ujar As'ad.
Saat ini, Stasiun Slawi melayani delapan perjalanan kereta api setiap hari, yakni KA Kamandaka dan KA Joglosemarkerto.
Layanan tersebut memberikan akses bagi masyarakat Slawi dan sekitarnya menuju sejumlah kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kereta api pun menjadi pilihan untuk menunjang berbagai kebutuhan, seperti bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, mengakses layanan kesehatan maupun bepergian untuk keperluan lainnya.
Dari Mengangkut Hasil Bumi hingga Manusia
Pada masa awal pengoperasiannya, jalur Tegal–Slawi–Prupuk menjadi salah satu sarana penting untuk mendukung kegiatan ekonomi. Hasil perkebunan dari wilayah sekitar Slawi dapat dibawa menuju daerah lain melalui jaringan kereta api.
Komoditas seperti gula, teh dan tembakau menjadi bagian dari aktivitas angkutan pada masa tersebut. Kereta api sekaligus melayani kebutuhan perjalanan masyarakat.
Kini, peran tersebut mengalami perubahan. Barang hasil perkebunan tidak lagi menjadi wajah utama aktivitas stasiun. Mobilitas manusia justru menjadi bagian penting dari kehidupan Stasiun Slawi.
Editor : EldeJoyosemito