Sejarah Stasiun Slawi yang Beroperasi Sejak 1885, Dulunya untuk Angkut Teh dan Tembakau
Salah satunya Wisata Alam Guci yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Slawi. Ada pula Taman Rakyat Slawi Ayu (TRASA) yang menjadi salah satu ruang publik dan tujuan masyarakat.
Kemudahan akses transportasi tersebut membuka peluang bagi wisatawan dari daerah lain untuk menikmati potensi wisata, kuliner dan budaya Kabupaten Tegal.
Tradisi Moci dan Identitas Slawi
Perjalanan panjang Stasiun Slawi tidak terlepas dari identitas budaya masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah moci, yakni kebiasaan menikmati teh yang disajikan menggunakan poci berbahan tanah liat.
Tradisi minum teh tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Tegal dan mencerminkan keramahan lokal. Kuliner seperti tahu aci juga menjadi bagian dari identitas daerah yang kerap dicari oleh para pendatang.
Selama 141 tahun, Stasiun Slawi telah melewati berbagai perubahan. Dari sebuah stasiun yang memiliki peran dalam mengangkut komoditas perkebunan hingga menjadi salah satu simpul transportasi masyarakat modern.
"Selama 141 tahun, Stasiun Slawi telah menyaksikan banyak perubahan. Dari masa ketika kereta api mengangkut hasil bumi hingga sekarang ketika kereta api mengantarkan masyarakat menuju berbagai tujuan. Perannya terus berkembang, tetapi esensinya tetap sama, yaitu menghubungkan masyarakat dan membuka akses terhadap berbagai peluang," ujar As'ad.
PT KAI Daop 5 Purwokerto menyatakan akan terus meningkatkan pelayanan kereta api agar perjalanan masyarakat berlangsung aman, nyaman, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Bagi masyarakat Slawi, perjalanan panjang stasiun tersebut bukan sekadar catatan sejarah. Selama lebih dari satu abad, Stasiun Slawi telah menjadi saksi perjalanan masyarakat yang datang dan pergi, sekaligus ikut menggerakkan roda ekonomi dan kehidupan di sekitarnya.
Editor : EldeJoyosemito