Di antaranya Meuen Galah dari Aceh, Margala dari Sumatera Utara, Jamuran dari Jawa Tengah, Gobak Sodor dari Jawa Timur, Meong-meongan dari Bali, serta sejumlah permainan gerak dan kelompok dari wilayah Papua.
Dengan konsep tersebut, anak-anak dapat mengenal permainan yang sebelumnya mungkin hanya mereka dengar dari cerita atau bahkan sama sekali belum pernah mereka ketahui.
Festival dikemas secara interaktif agar anak-anak tidak sekadar menjadi penonton. Pengunjung mendapatkan “Kartu Misi” yang berisi tantangan untuk mencoba sejumlah permainan yang telah disiapkan.
Setelah menyelesaikan tantangan, peserta berkesempatan memperoleh hadiah. Konsep tersebut membuat anak-anak terdorong untuk menjelajahi berbagai area permainan sekaligus mencoba permainan yang berbeda.
Supardan mengatakan, pendekatan tersebut diharapkan membuat generasi muda mengalami secara langsung berbagai nilai yang terkandung dalam permainan tradisional.
Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar mengenai kebersamaan, kerja sama, sportivitas, keberanian, ketangkasan serta kecintaan terhadap budaya Indonesia.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
